Senin, 01 September 2014

Mahasiswa Dulu dan Kini, Esok??!



Terbentuknya negara atau bangsa ini juga tak lepas dari perjuangan dan pemikiran para intelektual muda seperti Soetomo, Soekarno, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir, M. Yamin, dan teman-temannya. Mereka yang telah terdidik dan tercerahkan memiliki nurani sebagai bangsa Indonesia berkeyakinan harus memerdekakan bangsanya. Melalui keyakinan bahwa diskusi-diskusi kecil yang mereka adakan, akan menjadikannya gerakan massa besar untuk membangun kesadaran bahwa bangsa ini terjajah. Bahkan satu buah kata “merdeka” saja dapat mengobarkan karakter semangat dan kepercayaan diri mereka.
Lanjut pada turunnya Orde Lama dan Orde Baru, tidak terlepas dari peran mahasiswa. Setelah kasus PKI terbongkar pada masa Orde Lama, masih muncul rasa kurang puas dari kalangan rakyat Indonesia. Disini mahasiswa menunjukkan aksinya dengan berdemonstrasi menyuarakan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Hingga akhirnya turunlah Surat Perintah Sebelas Maret tahun 1966 (Supersemar) yang menandakan jatuhnya Orde Lama dan berganti ke Orde Baru pimpinan presiden Soeharto.
Begitu juga Orde Baru, kondisi ekonomi yang sedang krisis membuat mahasiswa pada waktu itu bersatu, bekerja sama dengan buruh, petani, serta rakyat miskin kota dan melakukan aksi 1998. Mereka berdemonstrasi menuntut reformasi dan berhadapan langsung dengan aparatur negara bersenjata lengkap. Kerusuhan dan penjarahan pun terjadi, namun para pejuang aktivis mei 1998 tersebut tetap kokoh dengan tujuannya, yaitu reformasi. Perjuangan mahasiswa masih berlangsung meskipun sudah jelas kerugian atau kerusakan yang terjadi begitu besar. Akhirnya tujuan mereka tercapai, presiden Soeharto mengundurkan diri dan digantikan oleh wakilnya, B.J. Habibie. Dengan demikian berakhirlah Orde Lama dan berganti ke Reformasi.
Itulah peranan mahasiswa dahulu. Mereka mampu membangun kerjasama di tengah kekacauan politik ekonomi. Melalui diskusi kecil, mampu menyadarkan masyarakat akan penjajahan, bahkan dengan aksinya mampu untuk ikut menentukan arah perkembangan bangsa.
Kini, semua hal tersebut telah mengalami pergeseran budaya. Mahasiswa sekarang terlalu sibuk dengan tugas kuliahnya, laptopnya, ponselnya, dan sebagainya. Selain itu, mudah terpancing dengan isu kecil dengan melaksanakan demonstrasi anarkis tanpa mengkaji isu tersebut terlebih dahulu. Sebagai mahasiswa, sudah seharusnya memahami akan mahalnya biaya dan belum meratanya pembangunan. Adanya demonstrasi anarki, maka akan ada biaya tambahan yang dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan yang ada. Padahal aksi damai masih bisa diperjuangkan oleh mahasiswa. Memang begitu banyak yang bergeser ketika kita bicara dalam konteks Indonesia kekinian. Banyak generasi terdidik yang mengalami amnesia sejarah karena pengaruh globalisasi melunturkan posisi mahasiswa sebagai pejuang hak-hak masyarakat. Mereka lupa jika bangsa ini tercipta atas perjuangan keras pendahulu mereka. Semoga kondisi seperti ini tidak berlangsung secara kontinyu agar bangsa ini tidak hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya karena kondisi iron stocknya.
Pernyataan diatas adalah kondisi mahasiswa Indonesia dari segi negatif. Perlu kita ketahui bahwa tidak semua mahasiswa Indonesia kondisinya sama dengan pernyataan di atas. Sudah banyak kegiatan yang dapat dijadikan suatu pembentukan karakter pelajar antara lain melalui organisasi, UKM, diskusi kelompok, dan kegiatan yang bersifat membangun kompetensi generasi muda utamanya mahasiswa. Pertukaran pola pikir akan membentuk tujuan pelajar untuk suatu perubahan besar bagi bangsa ke arah yang lebih baik. Ilmu yang didapat menjadi lebih banyak. Tidak hanya Indeks Prestasi yang harus baik, tetapi pengaplikasian dalam kehidupan harus baik pula, karena pada dasarnya, mahasiswa dididik untuk kemajuan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mahasiswa Indonesia harus mau berpikir kritis, bergerak progresif, berprestasi, berani, dan bertanggung jawab.
Kegiatan positif sudah semakin banyak dan kita harus berkeyakinan bahwa kegiatan positif tersebut akan menyingkirkan segi negatif mahasiswa Indonesia. Perlu diingat bahwa mahasiswa memiliki peranan sosial, yaitu bahwa keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Dunia kampus merupakan dunia mahasiswa. Disinilah dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai individu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan moral yang berlaku dalam masyarakat.
Besok, akan semakin banyak mahasiswa yang sadar, bahwa mereka adalah secerca cahaya harapan bangsa yang mampu membawa perubahan lebih baik demi terwujudnya kemadirian Indonesia dengan ilmu mereka.

Yang Terpilih untuk FTSP ITS

Tulisan ini bukan dari saya, tetapi dari kaBakor Pemandu FTSP 2013/2014. Tulisan sederhana, namun cukup menginspirasi. Silakan disimak:


"Pemandu yaitu seorang mahasiswa yang telah mengikuti Pelatihan Pemandu LKMM. Ia adalah anggota tim yang bertugas mengatur jalannya latihan sesuai dengan metode yang telah ditetapkan, sehingga proses pelatihan dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan" dikutip dari Buku Kurikulum TD 2009.

Awalnya, saya hanya melihat pakaian yang mereka pakai, iya, mereka terlihat seperti orang yang beradab, memakai dasi, berkemeja, bercelana kain dan memakai pantovel. Yah, itulah pemandu. Pada saat itu juga saya berkata bahwa "saya akan menjadi pemandu! "

Didukung dengan kepribadian saya yang agak sanguinis, semakin mendorong saya untuk menjadi orang yang kala waktu itu saya anggap keren, jelas, pemandu pusat perhatian.
Singkat cerita beberapa semester kemudian saya menjadi peserta PP LKMM FTSP ITS, tes nya pun lebih mudah daripada yang saya bayangkan, hanya menggombal sana sini akhirnya saya menjadi pemandu. Kemudian berlanjut di Ruang Sidang FTI dan FTSP, saya bertemu dengan orang - orang yang bernasib sama dengan saya, mereka lolos menjadi peserta PP LKMM FTSP ITS. Entah mereka lolos dengan cara sama seperti saya atau tidak, yang jelas kami lolos.

Saya dan beberapa peserta yang lain mengikuti Pelatihan tersebut dengan antusias, saya sendiri lebih memilih menghayati dan mengikuti alur tiap menit waktu yang sudah direncanakan oleh pemandu. Beberapa dari yang lain memilih untuk diam dan hanya memantau, sesekali melontarkan pertanyaan kritis yang bagi saya "mbulet"  untuk dijawab dan seringkali keluar dari substansi pelatihan tersebut. Empat hari kemudian pelatihan tersebut selesai dengan bermakna bagi saya, banyak harapan yang diberikan kepada angkatan kami, beberapa peserta yang lain pun merasakan hal yang sama terlihat dari wajah dan ekspresi mereka selama pelatihan.

Selesai pelatihan, kami sudah dinanti Pra TD untuk segera dikerjakan dengan angkatan pemandu diatas kami. Masih banyak pemandu yang ikut menyiapkan Pra TD, tapi sudah tidak sebanyak ketika Pelatihan Pemandu kemarin. Bagi saya saat  itu wajar, kebanyakan diantara kami adalah mahasiswa - mahasiswa yang memiliki kesibukan di himpunan masing2, ada yang menjadi SC Pengaderan, Staff Departemen, Kadept Departemen dan banyak yg lain lagi. Pengerjaan Pra TD dari mulai persiapan hingga akhir Pra TD dilakukan oleh banyak pemandu, ya banyak tapi tidak sebanyak peserta yang duduk bersama saya dulu di PP LKMM FTSP ITS.

Sebenarnya, di benak saya terpikir banyak hal yang bisa dilakukan terkait Pemandu (setelah ikut PP LKMM). Pemandu adalah orang yang secara langsung memilih dan mendidik mahasiswa - mahasiswa yang ada di kampus ITS untuk menjadi seseorang yang "berarti" di lingkup kampus. Pemandu mendidik, mengkader dan mendisiplinkan mahasiswa terpilih itu dalam sebuah pelatihan. Mereka memiliki kewenangan terhadap berjalannya pelatihan tersebut. Dengan rata - rata pesertanya adalah calon - calon pemimpin kampus, kesempatan untuk turut berkontribusi membentuk kampus yang lebih baik pun ada disini. Sangat besar.

Akan tetapi ketika saya mulai merasakan kenyataan dibalik kemeja dan dasi yang pemandu pakai. Sangat jauh dari harapan dan kesempatan yang sudah dimanfaatkan. Kenyataan pemandu yang sebenarnya memiliki tugas untuk mengkonsep dan memberikan materi saat pelatihan, kedua pekerjaan tersebut tidak dilakukan dengan profesional apalagi sepenuh hati. Tidak bisa digeneralisir memang bahwa semua pemandu tidak melaksanakan tugasnya, karena banyak juga pemandu yang hingga kini aktif walau sudah bekerja, memberikan kontribusinya untuk pengembangan mahasiswa di ITS. Sayangnya hanya segelintir pemandu yang berkomitmen hingga sedalam itu.

Logika berpikir sederhana saja, andai pemandu memiliki kesadaran untuk komitmen, profesional dan sepenuh hati untuk menjadi "pemandu" maka akan banyak perbaikan dalam pelaksanaan LKMM di kampus ini. Banyak permasalahan bangsa yang harus dijawab oleh mahasiswa sekarang, khususnya mahasiswa ITS, kalau memang sepenuh hati menjadi pemandu untuk berkontribusi pada kampus, pasti tak segan untuk membawa salah satu masalah tersebut sebagai tema pelatihan dan mengarahkan calon - calon pemimpin kampus ini untuk menyelesaikannya paling tidak seringan - ringannya untuk peduli terhadapnya.

Baru - baru ini saya ikut simpati setelah membaca tulisan "Maaf ITS, Anda Belum Bisa Berbangga" , karya mahasiswa Teknik Sipil ITS angkatan 2012, Georgi Ferdwindra, lebih muda dari saya dan memiliki pengalaman di luar negeri, berani memberikan pandangan dengan tulisan tentang apa yang menjadi kekhawatirannya akan kampus ini. Dia membahas salah satu permasalahan besar mahasiswa ITS yaitu dalam kesiapan menghadapi ASEAN Economic Community. Ekspresi kekhawatiran tersebut diungkapkan dalam peringatan terhadap mahasiswa ITS. Karena memang saya bukan mahasiswa yang melek informasi seperti itu saya langsung bertanya terhadap diri saya sendiri, apa yang bisa saya lakukan untu  ini? Sempat berpikir kenapa harus memikirkan hal tersebut? tapi segera saya hilangkan prasangka tersebut, mungkin bentuk ketakutan akan tidak mampunya diri dalam menghadapi Internasionalisasi Kampus khususnya dengan bahasa. Lantas apa hubungannya dengan pemandu? bukannya jauh permasalahan tersebut dari LKMM? Jauh sih iya, tapi masih dikampus ITS kan? :) Keterbukaan pemandu untuk menyesuaikan konsep pelatihan terhadap permasalahan yang ada, bisa saja menjadi celah untuk memberikan pemahaman tentang hal ini.

Sayangnya, sedikit mahasiswa yang mau berdiri diatas kepentingan ITS daripada kepentingan pribadi maupun organisasinya. Sehingga seringkali mereka membuang kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan mereka dan cenderung mensyiarkan kesulitan mereka agar mendapat simpati dari yang lain. Bahkan, untuk permasalahan kecil pun akan dibesar - besarkan agar mendapat perhatian dari orang lain. Seperti permasalahan Georgi, sebenarnya bisa dijawab oleh Pemandu yang juga merupakan mahasiswa, bersama - sama memberikan solusi bagaimana menjawab pertanyaan terkait kesiapan kita terhadap AEC. Tak perlu kita bertanya siapa yang salah dengan kondisi kampus yang seperti ini, dan tak perlu pesimis dengan kondisi kampus yang seperti ini, karena jika kita sudah menyalahkan orang lain, tak akan selesai permasalahan kita, dan jika kita pesimis dengan kampus kita berarti kita pesimis terhadap diri kita.

Banyak Pekerjaan Rumah yang harus dibenahi dalam pemandu, amanah pemandu ini akan menjadi mulia jika benar dan sepenuh hati dalam memanfaatkannya, akan jadi hina nama kita di kampus jika salah dalam mengembannya. Sudah banyak nama - nama mahasiswa yang menyandang gelar peserta alumni PP LKMM, tapi banyak pula yang menyia - nyiakannya, tidak memaksimalkan kesempatannya, bahkan menganggapnya tidak penting bagi kehidupannya. Padahal ia bertanggungjawab atas pemimpin ormawa kampus ITS yang tercetak setelahnya.

Untuk Peserta PP LKMM FTSP ITS 2013, saya menyerahkan sepenuhnya terhadap kalian, hanya mengikuti PP LKMM FTSP ITS 2013, atau menjadi Pemandu FTSP yang aktif di pengembangan mahasiswa ITS dalam LKMM menyelesaikan permasalahan ITS dan Bangsa. Mengingatkan kalian, kalau sesungguhnya semua berawal dari niat, dan niat kami ketika memilih kalian adalah ingin membentuk generasi yang lebih baik dari kami, profesional sebagai pemandu tanpa sedikitpun meninggalkan arti kekeluargaan. Hingga sampai berlarut - larut kami persiapkan untuk kalian, merumuskan 35 nama dengan diawali teriakan, perdebatan, dan tangisan oleh beberapa pemandu. Ada hati yang bermain disini, kami berharap kalian mengerti dan bersama kami ikut memperbaiki kampus ITS bersama - sama dengan cara kita, Pemandu FTSP.

Best Regards
AAY

Selasa, 30 Juli 2013

Era Baru untuk Bangkit




Mahasiswa dapat dikatakan sebuah komunitas unik yang berada di masyarakat, dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya, mahasiswa mampu berada sedikit di atas masyarakat. Mahasiswa juga belum tercekoki oleh kepentingan-kepentingan suatu golongan, ormas, parpol, dan sebagainya. Kepentingan politis mahasiswa pol – polan hanyalah politik kampus. Selama ini, aku belum mengetahui ada golongan mahasiswa yang berpolitik untuk memperoleh jabatan pemerintahan.
Pemahaman tentang pentingnya pengabdian seharusnya tercermin dari setiap jiwa mahasiswa. Terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi hanyalah syarat administratif menjadi mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri. Kemampuan intelektual atau hardskill saja harusnya terasa kurang, tetap jua harus memiliki kemampuan softskill yang juga tak kalah penting bagi kesuksesan seorang mahasiswa setelah lulus. Kemampuan intelektual bisa kita peroleh di kegiatan perkuliahan, sedang softskill bisa kita peroleh melalui kegiatan atau organisai yang ada di kampus. Ada yang bilang “Jadi mahasiswa jangan hanya kuliah saja, tetapi juga ikut organisasi, lebih baik mendapat nilai pas-pasan, tetapi aktif di organisasi”. Ya meskipun dalam pemikiranku sebenarnya lebih baik apabila nilainya bagus dan organisasi tetap aktif. Tetapi secara tak langsung pernyataan di atas ada benarnya.
Melihat dinamika organisasi jurusan Teknik Geomatika ini yang sedikit ruwet seperti agenda yang dipaksakan jadi proker, kaderisasi melanggar aturan birokrasi, hingga  vakumnya himpunan di awal tahun 2013. Bagaimana kita menyikapinya? Apa dengan berdiam diri dan mengikuti alur? Kita tak sepantasnya hanya menjadi kritikus yang mengkritik, apalagi kritikannya dalam bentuk rasan – rasan, tapi kita harus melakukan suatu perubahan untuk menyongsong kebangkitan di era baru ini. Anggotanya semakin banyak dan bervariasi, sehingga bukan saatnya menutup diri dari  kondisi di luar himpunan. Karena perjuangan adalah untuk Agama, Bangsa dan Almamater.
Memasuki lingkup himpunan tidak hanya sekedar ikut-ikutan saja, melainkan diperlukan sebuah dedikasi. Dedikasi untuk mempertahankan yang baik dan menyembuhkan borok. Seperti pernyataan teman saya si NM dalam situs jejaring sosial, “ Kalo ada borok, disembuhin dulu rek boroknya, jangan ditinggal dulu untuk nyembuhin borok yang lain. Suwun2. Borok = luka”. Ada semacam tantangan dalam mengurus organisasi ini, tetapi yang namanya tantangan bukanlah hambatan. Yang perlu kita tahu, bahwa untuk bisa menjadi bangkit diperlukan suatu perubahan. Jika kadernya tak berubah, yang akan gini – gini aja jadinya.
Demi kebangkitan era baru Himage-ITS, pasti dibutuhkan orang-orang yang mau mendedikasikan diri dan loyal pada Himage. Tetap diperlukan sumber daya mahasiswa yang mau bekerja sama untuk membangun dan memberikan citra positif baik dari dalam maupun luar.  Kadernya harus terjun untuk  memulai perubahan yang besar. Perubahan yang besar tidak serta merta merubah yang hal besar akan tetapi memulai merubah dari hal yang kecil. Seperti kata Mak Erot, “ Sesuatu yang besar, dulunya juga kecil”. Dengan tekad yang kuat, mau bekerja sama, serta berdoa pasti tiada halangan yang tak terpatahkan, tak memedulikan anggota himpunan berbeda keyakinan, berbeda pemikiran, berbeda cara pandang, berbeda bentuk san rupa , serta berasal dari berbagai wilayah. Karena perbedaan itu bukanlah pemisah, namun pemersatu untuk menjadikan himpunan lebih solid dan maju.




ditulis pada, 27  dan 28 Juli, 21.30 WIB
Ghulam Arfi Ghifari
3512100016

Bukan Hanya Berkutat di Kaderisasi


     Sebuah coretan hasil ngawang – ngawang ketika akan menjabat sebagai salah satu anggota PSDM HIMAGE-ITS 2013/2014. Memang aneh tapi dengan penuh pengharapan bahwa hasil ngawang – ngawang ini bisa memberi manfaat bagi pembacanya. Perbedaan pemikiran, so simple dan wajar, pokok jo jotos – jotosan.

     Kaderisasi, sebuah proses pembentukan karakter pribadi dan bisa diisi dengan pelatihan - pelatihan untuk membentuk kader-kader yang terbaik yang diinginkan untuk masa depan. Kerasnya sistem kaderisasi kadang juga membuat lemah motivasi untuk mengikutinya karena bercampur aduknya pikiran, perasaan, dan tindakan.  Namun disisi lain juga memberikan motivasi ketika mendapat hal baru dan mulai nyaman dengan tekanan tersebut. Kaderisasi ini berbeda dengan OSPEK yang isinya hanya pengenalan,  juga bukan latihan ala militer yang penuh bentakan dan hukuman. Kaderisasi alias pengaderan seutuhnya berbicara tentang bagaimana membentuk dan mendidik seseorang dalam menghadirkan keutuhan nilai-nilai manusiawi di dalam sisi pikiran dan perbuatan. Kaderisasi merupakan salah satu program HIMAGE – ITS yang dijalankan untuk memperoleh kader – kader baru yang diharapkan.

     Pentingkah kaderisasi ini? Pentinglah, di kaderisasi ini kita diajarkan beberapa nilai positif seperti solid, professional, prestatif yang tidak kita dapatkan di perguruan tinggi lain. Selain itu proses kaderisasi juga dapat mengubah mindset kita dari pemikiran SMA ke pemikiran mahasiswa. Dari yang sebelumnya hanya mementingkan akademik saja menjadi ingin berkontribusi di masyarakat, dan sebagainya.

     Yang mesti disoroti dalam kaderisasi ini ialah selain munculnya penyempitan pandangan bahwa yang dikader hanyalah mahasiswa baru, menurutku himpunan beserta anggotanya terlalu berkutat dan mencurahkan pemikirannya di kaderisasi ini. Padahal program kerja himpunan di jurusan ini bukan hanya kaderisasi saja. Masih ada proker lain bahkan ada proker gede juga yang jika bisa dikerjakan dengan baik akan memberikan citra positif bagi jurusan dan nama himpunan serta ITS. Apalagi sistem kaderisasi menunjukkan adanya gab alias jarak antara maba dan penyandang gelar G, padahal sama – sama manusia. Bukankah bisa lebih baik jika berkolaborasi dengan menyatukan segenap perbedaan dan potensi mahasiswa di dalamnya? Janganlah kita menggolongkan diri menjadi pengadil dunia yang berhak dan bisa menjustifikasi manusia yang lebih muda sesukanya. Sadarlah, mahasiswa hanyalah rakyat jelata yang biaya kuliahnya dibantu oleh pembayar pajak negeri ini. 

   Setidaknya, mahasiswa tidak melupakan 3 peranan, yaitu peranan moral, peranan sosial, dan peranan intelektual. Dunia kampus merupakan dunia di mana setiap mahasiswa dengan bebas memilih kehidupan yang mereka mau. Disinilah dituntut suatu tanggung jawab moral terhadap diri masing-masing sebagai individu untuk dapat menjalankan kehidupan yang bertanggung jawab dan sesuai dengan moral yang hidup dalam masyarakat. Inilah yang disebut peranan moral.

     Selain tanggung jawab individu, mahasiswa juga memiliki peranan sosial, yaitu bahwa keberadaan dan segala perbuatannya tidak hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bahkan dalam MUBES IV juga sudah diatur tentang peranan sosial lembaga eksekutif di Institut kita ini. BEM ITS dengan ranah sosial politik (KDKM ITS Pasal 11 ayat 4), BEM Fakultas dengan ranah sosial masyarakat (KDKM ITS Pasal 15 ayat 3), dan HMJ dengan ranah keprofesian. Bahkan ruang gerak HMJ diperluas juga. HMJ boleh beraktivitas di luar keprofesian dan bergerak di luar lingkup jurusan asal dikoordinasikan dengan elemen-elemen KM ITS yang terkait (KDKM ITS Pasal 19 ayat 2 dan 3). Ketiga, adalah peranan intelektual. Mahasiswa sebagai orang yang disebut-sebut sebagai insan intelek haruslah dapat mewujudkan status tersebut dalam ranah kehidupan nyata. Dalam arti menyadari betul bahwa fungsi dasar mahasiswa adalah bergelut dengan ilmu pengetahuan dan memberikan perubahan yang lebih baik dengan intelektualitas yang ia miliki selama menjalani pendidikan. Intine mahasiswa kudu pinter.

     Nah, untuk menyongsong Kebangkitan era baru di HIMAGE ITS ini, kita tak boleh menghilangkan salah satu peranan mahasiswa di atas. Program kerja himpunan bukan hanya kaderisasi, sehingga janganlah berkutat di kaderisasi saja. Mari berkolaborasi untuk mewujudkan HIMAGE bangkit di era baru ini. Tetapi, meskipun tulisannya seperti ini, bukan berarti kaderisasi bisa dihilangkan. Kaderisasi merupakan sumber inspirasi.


ditulis pada 30 Agustus 2013, 07.00 
Ghulam Arfi Ghifari
3512100016

Selasa, 23 Juli 2013

GAG Self Motivation

Apakah GAG Self Motivation itu?
Maaf, ini ajang sedikit narzis. Bawasannya GAG Self Motivation ini merupakan kata yang dianggap bijak untuk memotivasi seorang yang bernama Ghulam Arfi Ghifari. Kata yang dianggap bijak ini tidak hanya berasal dari tokoh – tokoh nasional, dunia, dan sebagainya. Namun juga berasal dari pemikiran pribadi, pernyataan orang tua, sahabat, asalkan masih tergolong manusia dan dianggap si Arfi ini memotivasinya. Mungkin sebagian ruwet, tapi tak apalah, yang penting bisa mendatangkan faedah. Amin…

                                                                               all about Arfi

Masih terlalu banyak mahasiswa yang sok kuasa. Merintih kalau ditekan tapi menindas ketika berkuasa. Mementingkan golongan , ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun ada adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban baru untuk di tipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. – Soe Hok Gie

Nilai 82 sudah A cuy. – Ghulam Arfi G

Meskipun hanya langkah kecil, jika baik, lakukan dan ajaklah sekelilingmu! Maka perubahan akan terlihat. – Ghulam Arfi G

Tidak hanya Indeks Prestasi yang harus baik, tetapi pengaplikasian dalam kehidupan harus baik pula, karena pada dasarnya, mahasiswa dididik untuk kemajuan bangsa Indonesia. – Ghulam Arfi G

Sakit dalam perjuangan itu sementara. Namun, sakit terasa selamanya jika kita menyerah, apalagi tanpa usaha. – Ghulam Arfi G

Beri aku seribu orang tua, maka akan kucabut Mahameru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia. – Bung Karno

Aku menyadari bahwa tidak semua impian dapat kuwujudkan. Namun, setidaknya aku telah berusaha. – Ghulam Arfi G

Mengidamkan, mengharapkan, menginginkan huruf ‘A’. – Ghulam Arfi G

Meski berbeda pendapat, ada perdebatan, bahkan konflik.
Itu tak akan menjadi perpecahan. Tiada pendapat yg benar secara pasti, hanya diterima oleh banyak khalayak waktu itu. – Ghulam Arfi G

CINTA ( Cermat dalam setiap INovasi untuk menjadi Teladan dalam mengemban Amanah)

                                                                                                                          *masih berlanjut_____

Senin, 15 Juli 2013

Penawaran Beasiswa DataPrint

     Baru nih! Dari Dataprint!


     Program beasiswa DataPrint telah memasuki tahun ketiga. Setelah sukses mengadakan program beasiswa di tahun 2011 dan 2012, maka DataPrint kembali membuat program beasiswa bagi penggunanya yang berstatus pelajar dan mahasiswa.  Hingga saat ini lebih dari 1000 beasiswa telah diberikan bagi penggunanya.
     Di tahun 2013 sebanyak 500 beasiswa akan diberikan bagi pendaftar yang terseleksi. Program beasiswa dibagi dalam dua periode. Tidak ada sistem kuota berdasarkan daerah dan atau sekolah/perguruan tinggi. Hal ini bertujuan agar beasiswa dapat diterima secara merata bagi seluruh pengguna DataPrint.  Beasiswa terbagi dalam tiga nominal yaitu Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 1 juta. Dana beasiswa akan diberikan satu kali bagi peserta yang lolos penilaian. Aspek penilaian berdasarkan dari essay, prestasi dan keaktifan peserta.
     Beasiswa yang dibagikan diharapkan dapat meringankan biaya pendidikan sekaligus mendorong penerima beasiswa untuk lebih berprestasi. Jadi, segera daftarkan diri kamu disini!


Testimonials

Dataprint telah memberikan aku kesempatan untuk memperoleh beasiswa dengan jalan menyalurkan hobi menulis ku.. beasiswanya pun sangat mendukung aku dalam berkuliah.. Belum lagi tintanya sudah aku pakai sejak tahun 2005 dan kualitasnya super banget… makasih DataPrint AWAL SAFAR M FAKULTAS KEDOKTERAN - UNIVERSITAS HASANUDDIN

Terima kasih dataprint, sukses dengan program beasiswa dan program-program lainnya! Elisa Fadia LailiSMAN 1 SIDOARJO
Empat kali ikut beasiswa dataprint, akhirnya dapat juga. Terimakasih sudah membelajarkanku tentang kesabaran dan kegigihan IKA HARDIYAN AKSARI - UNIVERSITAS MURIA



Pendaftaran periode 1 : 1 Februari – 30 Juni 2013
Pengumuman                : 10 Juli 2013

Pendaftaran periode 2   : 1 Juli – 31 Desember 2013
Pengumuman                : 13 Januari 2014

PERIODE
JUMLAH PENERIMA BEASISWA
@ Rp 1.000.000 @ Rp 500.000 @ Rp 250.000
Periode 1
50 orang
50 orang
150 orang
Periode 2
50 orang
50 orang
150 orang